So What do You Think About…

Let’s go hypothetical. You are about 28 years old. Have a job on a path to a career. You are content with your life. One day you go to a party and meet a person. You and the person hit it off and decide to go out on a date. After your first date, you […]

So What do You Think About…

Attaining perfect beauty rules

For attractive lips, speak words of kindness. For lovely eyes, seek out the good in people. For a slim figure, share your food with the hungry. For beautiful hair, let a child run his fingers through it once a day. For poise, walk with the knowledge you’ll never walk alone. … We leave you a […]

Attaining perfect beauty rules

A Crying Shame

There’s a big difference between shame and guilt. Guilt is the feeling you get when you did something wrong, or perceived you did something wrong, whereas shame is a feeling that your whole self is wrong – a belief that you’re a bad person, or unworthy as an individual.  Now, guilt isn’t necessarily a bad […]

A Crying Shame

Terpaksa?

Bagaimana rasanya jika kamu diharuskan menerima atau diharuskan menolak? Aku yakin, tak seorang pun dapat mengungkapkan rasa bahagia pada saat dia diharuskan melakukan sesuatu.

Beda cerita ketika suatu saat kamu tahu bahwa terkadang terpaksa itu juga merupakan keputusan yang tepat. Saat seperti itu pasti kamu akan mendapati dirimu sedang bercerita didepan teman-temanmu, seperti seorang motivator terkenal.

Pernah aku berada pada posisi dimana menerima dan menolak itu adalah suatu yang sangat menyakitkan. Apalagi aku diharuskan untuk melakukannya. Bukan orang lain yang mengharuskanku, melainkan diriku sendiri.

Tersiksa ketika hatiku menolak untuk melupakan yang berlalu, dan lebih menyakitkan lagi ketika hatiku menerima yang jelas-jelas salah dan bahkan untuk sekadar diingat saja pun tidak pantas.

Pikiran dan hati tidak menemukan sepakat. Yang akhirnya akan menyebabkn keterpaksaan. Tapi keterpaksaan itu boleh dikatakan sebuah usaha yang sangat hebat untuk sebuah hasil yang memuaskan. Karena usaha itu bukan semata-mata hasilnya saja, tapi ada proses didalamnya yang berjalan seiring perubahan pikiran dn hati. Proses itu sebenarnya poin utama yang tak akan kita pandang sebelah mata.

Aku tidak apa-apa….

Bertahun-tahun bersamamu membuatku tahu betul bau ketutmu seperti apa, hahaha. Bertahun-tahun bersamamu membuat hatiku sangat terluka ketika kamu akhirnya meninggalkanku. Namun, sebenarnya aku juga tahu betul bahwa tidak ada yang bisa menjamin hubungan yang sudah lama akan menjadi jodoh abadi. Ya, jodoh sudah Tuhan tentukan, sudah dicatat, sudah menjadi takdir-Nya. Kalau Tuhan yang menutup, siapa pun tidak akan bisa untuk membukanya dan sebaliknya. Dari masalah ini, Tuhan mengajarkanku untuk mengenal arti sabar dan ikhlas.

Awalnya aku menyesal, menyesal bertemu denganmu, menyesal mencintaimu, menyesali saat-saat bersamamu. Saat kamu meninggalkan ku, sedihku berkepanjangan, hingga aku merasa aku pernah berada pada titik terendahku dimana seolah tidak ada harapan hidup. Aku sempat membencimu, sangat membencimu, tapi itu semakin membuatku terpuruk menangisi keadaan.

Pada akhirnya aku sadar, darimu aku banyak belajar pahit manisnya hubungan, aku belajar setia bertahun-tahun, aku belajar menjalin hubungan terpisah jarak dari awal hingga akhir, aku belajar sabar menunggu waktu untuk bertemu dengan mu, aku belajar merindu itu seperti apa. Semua itu aku pelajari menjadi dasar-dasar ilmu cinta yang nantinya aku akan naik ke level cinta yang sesungguhnya, level cinta yang benar bagi Tuhan.

Darimu, aku merasakan rasa disayangi sedemikian dalam, dirindukan sedemikian dalam, dicemburui sedemikian dalam, disanjung, digombal, dibimbing dan dihargai sedemikian dalamnya. Semua itu aku pelajari bersamamu, dimana rasa itu benar-benar ada yang membuat kita tidak perduli apa kata orang.

Aku dan kamu dulunya seakan jadi dua orang yang menyatu dan tak kan terpisahkan. Menggapai masa depan itu terasa sangat mudah buat kita karna kita membicarakannya, merencanakannya dan menjalaninya bersama. Dengan itu juga aku menyadari bahwa  perubahan itu selalu ada, dari yang positif menjadi negatif dan bahkan sebaliknya.  Yang dulunya kamu menggenggam erat tanganku, perlahan kamu melonggarkan genggamannmu dan akhirnya kamu melepaskanya. Ya, perubahan bisa kapan saja terjadi.  Tadinya aku hanya memikirkan perasaan, namun sekarang aku sadar bahwa cinta itu bukan sekedar perasaan tapi juga butuh kepastian. Kepastian atas visi, misi dan tujuan kita menjalin hubungan. Lagi-lagi aku belajar untuk berlapang dada, dimana aku harus menerima kenyataan bahwa kita tak lagi punya perasaan dan visi yang sama.

Ikhlas membuatku mengerti cinta tulus itu seperti apa. Mungkin aku tidak akan pernah membencimu yang telah meninggalkaku. Benar. Aku katakan “mungkin”. Sebut saja aku masih sangat labil dengan perasaanku saat ini. Kenapa? Karna dulu aku menyayangimu, dulu aku bahagia bersamamu, dan sekarang pun aku berpikir bahwa aku masih boleh menyayangimu walaupun tidak memilikimu. Perasaan cinta bukanlah hal yang bisa hilang begitu saja. Perasaan cinta yang kumiliki saat ini memang tidak sedalam yang dulu lagi, namun itu cukup membuatku tetap mendoakan yang terbaik buatmu. Dengan begitu, sekarang aku mengerti indah itu tidak selalu harus bersama, namun ada keindahan dalam perpisahan.

Cepat atau lambat, suatu saat nanti aku akan berkata “Aku Ikhlas dan Aku tidak apa-apa”.

Niat mu bagaimana?

“Seberapa besar niat mu untuk membuat suatu perubahan?Perubahan yang mengarahkan hidup ke yang lebih baik. Ketika kamu dipertanyakan bagaimana caramu untuk mewujudkannya, apa kamu sudah siap untuk menjawabnya? Menjawab dengan lugas dan tepat tanpa menimbulkan keraguan bagi orang yang akan mendengarnya. Seharusnya kamu juga sudah mempersiapkannya, termasuk alasan-alasan apa yang kamu jadikan patokan untuk melangkah mengambil suatu keputusan.”