Aku tidak apa-apa….

Bertahun-tahun bersamamu membuatku tahu betul bau ketutmu seperti apa, hahaha. Bertahun-tahun bersamamu membuat hatiku sangat terluka ketika kamu akhirnya meninggalkanku. Namun, sebenarnya aku juga tahu betul bahwa tidak ada yang bisa menjamin hubungan yang sudah lama akan menjadi jodoh abadi. Ya, jodoh sudah Tuhan tentukan, sudah dicatat, sudah menjadi takdir-Nya. Kalau Tuhan yang menutup, siapa pun tidak akan bisa untuk membukanya dan sebaliknya. Dari masalah ini, Tuhan mengajarkanku untuk mengenal arti sabar dan ikhlas.

Awalnya aku menyesal, menyesal bertemu denganmu, menyesal mencintaimu, menyesali saat-saat bersamamu. Saat kamu meninggalkan ku, sedihku berkepanjangan, hingga aku merasa aku pernah berada pada titik terendahku dimana seolah tidak ada harapan hidup. Aku sempat membencimu, sangat membencimu, tapi itu semakin membuatku terpuruk menangisi keadaan.

Pada akhirnya aku sadar, darimu aku banyak belajar pahit manisnya hubungan, aku belajar setia bertahun-tahun, aku belajar menjalin hubungan terpisah jarak dari awal hingga akhir, aku belajar sabar menunggu waktu untuk bertemu dengan mu, aku belajar merindu itu seperti apa. Semua itu aku pelajari menjadi dasar-dasar ilmu cinta yang nantinya aku akan naik ke level cinta yang sesungguhnya, level cinta yang benar bagi Tuhan.

Darimu, aku merasakan rasa disayangi sedemikian dalam, dirindukan sedemikian dalam, dicemburui sedemikian dalam, disanjung, digombal, dibimbing dan dihargai sedemikian dalamnya. Semua itu aku pelajari bersamamu, dimana rasa itu benar-benar ada yang membuat kita tidak perduli apa kata orang.

Aku dan kamu dulunya seakan jadi dua orang yang menyatu dan tak kan terpisahkan. Menggapai masa depan itu terasa sangat mudah buat kita karna kita membicarakannya, merencanakannya dan menjalaninya bersama. Dengan itu juga aku menyadari bahwa  perubahan itu selalu ada, dari yang positif menjadi negatif dan bahkan sebaliknya.  Yang dulunya kamu menggenggam erat tanganku, perlahan kamu melonggarkan genggamannmu dan akhirnya kamu melepaskanya. Ya, perubahan bisa kapan saja terjadi.  Tadinya aku hanya memikirkan perasaan, namun sekarang aku sadar bahwa cinta itu bukan sekedar perasaan tapi juga butuh kepastian. Kepastian atas visi, misi dan tujuan kita menjalin hubungan. Lagi-lagi aku belajar untuk berlapang dada, dimana aku harus menerima kenyataan bahwa kita tak lagi punya perasaan dan visi yang sama.

Ikhlas membuatku mengerti cinta tulus itu seperti apa. Mungkin aku tidak akan pernah membencimu yang telah meninggalkaku. Benar. Aku katakan “mungkin”. Sebut saja aku masih sangat labil dengan perasaanku saat ini. Kenapa? Karna dulu aku menyayangimu, dulu aku bahagia bersamamu, dan sekarang pun aku berpikir bahwa aku masih boleh menyayangimu walaupun tidak memilikimu. Perasaan cinta bukanlah hal yang bisa hilang begitu saja. Perasaan cinta yang kumiliki saat ini memang tidak sedalam yang dulu lagi, namun itu cukup membuatku tetap mendoakan yang terbaik buatmu. Dengan begitu, sekarang aku mengerti indah itu tidak selalu harus bersama, namun ada keindahan dalam perpisahan.

Cepat atau lambat, suatu saat nanti aku akan berkata “Aku Ikhlas dan Aku tidak apa-apa”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s