Terpaksa?

Bagaimana rasanya jika kamu diharuskan menerima atau diharuskan menolak? Aku yakin, tak seorang pun dapat mengungkapkan rasa bahagia pada saat dia diharuskan melakukan sesuatu.

Beda cerita ketika suatu saat kamu tahu bahwa terkadang terpaksa itu juga merupakan keputusan yang tepat. Saat seperti itu pasti kamu akan mendapati dirimu sedang bercerita didepan teman-temanmu, seperti seorang motivator terkenal.

Pernah aku berada pada posisi dimana menerima dan menolak itu adalah suatu yang sangat menyakitkan. Apalagi aku diharuskan untuk melakukannya. Bukan orang lain yang mengharuskanku, melainkan diriku sendiri.

Tersiksa ketika hatiku menolak untuk melupakan yang berlalu, dan lebih menyakitkan lagi ketika hatiku menerima yang jelas-jelas salah dan bahkan untuk sekadar diingat saja pun tidak pantas.

Pikiran dan hati tidak menemukan sepakat. Yang akhirnya akan menyebabkn keterpaksaan. Tapi keterpaksaan itu boleh dikatakan sebuah usaha yang sangat hebat untuk sebuah hasil yang memuaskan. Karena usaha itu bukan semata-mata hasilnya saja, tapi ada proses didalamnya yang berjalan seiring perubahan pikiran dn hati. Proses itu sebenarnya poin utama yang tak akan kita pandang sebelah mata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s